Burung Enggang

Simbol Kepemimpinan dan Kesetiaan

gambar burung Enggang (image : Search).

 

Burung Enggang atau biasa disebut dengan Rangkong adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran.

 

Burung yang dalam bahasa inggris bernama hornbill ini merupakan burung yang dikeramatkan bagi suku Dayak, bahkan mereka mengagumi burung Enggang layaknya sang Pemimpin.

 

Tentu bukan tanpa alasan, burung yang keseharianya memakan buah-buahan seperti buah ara, palem dan beringin, juga pemakan kelelawar, tikus, dan berbagai jenis serangga ini memiliki karakteristik kuat sebagai perumpamaan seorang pemimpin dilihat dari caranya mengepakan sayap sampai dengan tempat hinggap ketika terbang.

gambar kepakan burung Enggang (image : Search).

Burung yang mempunyai ukuran tubuh besar dan panjang hingga 100 cm ini cenderung akan mengeluarkan suara yang keras sebagai persiapan sebelum terbang, hal ini dapat diumpamakan sebagai seorang pemimpin yang selalu didengar dan ditaati disetiap perintahnya. Burung yang bernama ilmiah Buceros (merujuk pada bentuk paruh) ini juga selalu hinggap ditempat-tempat tinggi, hal ini dapat diumpamakan sebagai pemimpin karena selalu berada ditempat tertinggi.

gambar sepasang burung Enggang (image : Search).

 

Tak hanya sebagai simbol pemimpin, burung yang memiliki keindahan dan kehalusan pada bulunya ini terkenal sebagai burung yang sangat setia terhadap pasanganya.

 

Ketika bertelur burung Enggang betina akan membuat sarang dibatang pohon besar dengan cara membuat lubang lalu menutup lubangnya dari kotoran dan kulit buah. Selama dalam masa pengeraman sang induk betina tidak akan pergi mencari makan, sang jantan lah yang akan datang memberi makan melalui celah lubang kecil pada sarangnya. Sungguh burung yang luar biasa mengaggumkan. Tak heran jika masyarakat Dayak sangat mengkramatkan burung ini.

 

Sayangnya populasi burung Enggang kini hampir punah dikarenakan keserakahan manusia dalam penebangan hutan dan perburuan liar. Harga culah diatas paruhnya yang terbilang cukup mahal mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang tak berhati nurani ini untuk memburunya.

 

Pengalihan hutan menjadi kebun sawit benar-benar mampu menggerus populasi burung Enggang, padahal burung ini adalah burung penyumbang penyebaran benih dihutan, sungguh sangat disayangkan.

Semoga semakin banyak orang yang sadar untuk terus menjaga kelestarian alam dan juga burung Enggang agar nantinya tak haya menjadi cerita dan gambar untuk anak cucu kita di masa depan.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suka Duka Tinggal Dilingkungan Perkebunan Kelapa sawit

Tari Dayak Giring Giring